'Only one shot and you can change anything'
Kata-kata itu terus terngiang dibenakku. Aku memang bukan seorang teroris. Aku hanya terjebak dalam komplotan sialan ini. Kau tahu? Aku harus menembak sahabatku untuk menyelamatkanku dan keluargaku. Tapi, aku tak pernah bisa melakukannya, karena dia adalah orang yang sangat kucintai.
"Jungshin-ssi, besok kau harus melaksanakannya.. Atau keluargamu mati!" Teriak seseorang dibelakangku. Aku tak menoleh, karena aku sudah tahu siapa yang ada dibelakangku. Myun Woo. Seorang yang membuatku berada di keadaan ini.
Keesokan Harinya...
Cih, aku tak suka hari ini. Aku tak mungkin tega melepas Yoo Ra. Dia sahabatku. Dan tuhan pun tahu bahwa aku mencintainya. Aku akan menjadi orang yang sangat kejam jika membunuhnya. Lebih baik aku yang mati.
Ku langkahkan kakiku memasuki apartemen Yoo Ra. Senyumnya. Ah! Senyuman itu yang membuatku semakin mencintainya.
"Oh! Annyeong Oppa! Jeongmal Bogoshippeo! Mengapa 3 hari ini kau tak berkunjung kesini?"
Sialan! kenapa kau harus tersenyum lagi Yoo Ra? Aku semakin mencintaimu sekarang. Drrt...Drrt... Cish, siapa yang mengangguku? Aishh! Aku bisa gila!
"Yeobosaeyo?" Ujarku malas
"Jungshin-ssi ku tunggu kau dan dia di taman pinggir sungai myeondogu dua jam lagi! Aku ingin melihat sendiri wanita jalan itu mati haha!" Rahangku mengeras seketika. Tanganku mengepal. Apa dia bilang? Wanita jalang? Yoo Ra bukan seorang yang seperti itu! kumatikan ponselku. Ah aku semakin gila!
"Yoo Ra, lebih baik kita berjalan-jalan saja" Kataku tanpa menghiraukan pert
anyaan Yoo Ra tadi.
"Oh.. Nde aku ganti baju dulu"
At Myeondogu Park
"Jungshin-aa ada apa kau membawaku kemari? di seoul juga kan banyak taman. Mengapa kita harus kesini? Ini kan sangat jauh dari Seoul"
"Oh... Tidak, aku hanya ingin melihat sungai ini saja. Aku bosan melihat sungai han terus" Jawabku sambil mengeluarkan cengiran kuda. Dia hanya terkikik geli.
Drrtt.. Drrttt... Handphone ku bergetar. Kulihat nama yang ada dibalik layar ponselku. Kuangkat telfon itu walau batinku tak tenang.
"Jungshin-ss sekarang waktunya!" Lalu ia mematikan ponselnya. Fikiran tak menentu menyergapiku. Tak bisa kupungkiri perasaan ini. Tapi, aku harus memilih...
"Yoo Ra-aa ayo ikut aku!" Ajakku. Dia mengernyitkan alis seperti memberi tanda 'kemana?'
Yoo Ra menatapku tak percaya. Dia menatapku penuh kebencian. Ibuku telah berada disamping Myun Woo sambil ditodong oleh pisau tajam. Dan Myun Woo memberiku waktu untuk memilih salah satu. Aku tak ingin membunuh Yoo Ra hanya untuk membalaskan dendam Myun Woo kepada Yoo Ra. Aku tak mau!
"Sudah saatnya kau memilih Jungshin-ssi"
"Baiklah" Jawabku lemah
"Aku, akan memilih. Tapi, biarkan aku berbicara terlebih dahulu" Tambahku lagi.
"I'll give you five minutes. And don't forget about 'one shot'" Jawab Myun Woo.
"Untuk eomma. Maafkan aku yang sudah membuat eomma menderita dalam keadaan ini. Maafkan aku yang durhaka ini. Dan..untuk ehm..Yoo Ra, Jeongmal mianhae. Mungkin, aku sekarang menjadi orang paling jahat dimatamu. Aku hanya ingin mengatakan, Saranghae Yoo Ra-aa"
Yoo Ra terisak. Tapi aku dapat mendengar kata 'Na Do' di isakkannya. Itu berarti dia juga mencintaiku. Tapi cinta kami tak bisa bersatu.
"You're time is up dear, Choose one of them!"
" I will choose........." Kataku sambil memegang pistolku. "My Self" tambahku setelah sebuah peluru menusuk otakku. Kulihat samar-samar, Yoo Ra menangis. Lalu berkata "Jungshin-aa saranghae. Don't go anywhere without me" Katanya terisak.
"Nado Yoo Ra-aa. Don't cry dear... I'll always in your heart. Forget me and smile without me" Jawabku dengan jiwa yang hampir terlepas dari ragaku.
"I'll go now. You're right Myun Woo-ssi. One shot can change anything" Tambahku. Lalu tersenyum dan memejamkan mataku untuk selamanya.
Only one shotBut so hurtAnd make crazy And can't live again with...You...
No comments:
Post a Comment