Seorang wanita tertidur lelap di paha berotot Jin Lee. Ya.. dia adalah kekasihnya Min Ji. Sekarang mereka sedang piknik di taman. Tapi sekarang Min Ji malah tertidur lelap. Jin Lee menatap wajah cantik kekasihnya itu. Mengelus kedua pipi Min Ji sehingga membuat Min Ji terbangun dari tidurnya.
“Kau terganggu eoh?” Tanya Jin Lee.
“Ah tidak, aku memang sudah bangun” Jawab Min Ji sambil tersenyum kepada Jin Lee.
“Kalau begitu, ayo kita pulang. Cuaca disini sudah mulai dingin” Ajak Jin Lee.
“Baiklah” Jawab Min Ji. Mereka pun berjalan ke mobil Jin Lee. Setelah mereka sampai di mobil Jin Lee, mereka langsung masuk dan meninggalkan taman. Jin Lee mengantar Min Ji pulang.
Setelah sampai di rumah Min Ji. Jin Lee langsung membukakan pintu mobil untuk kekasihnya itu. Tapi, saat Min Ji baru saja akan berdiri, Min Ji terjatuh tepat dipelukan Jin Lee.
“Kau kenapa eoh? Apa kau sakit?” Tanya Jin Lee kepada Min Ji.
“Mungkin aku kedinginan, aku ingin segera masuk” Jawab Min Ji, bibirnya memutih karena kedinginan.
“Aku akan mengantarmu sampai kedalam”
“Oh,ne” Min Ji pun masuk ke rumahnya ditemani oleh Jin Lee. Jin Lee sangat mengkhawatirkan keadaan Min Ji, karena Min Ji hanya tinggal sendiri disini. Kedua orang tua Min Ji sudah meninggal dua tahun lalu dan sekarang dia hanya hidup sebatang kara.
“Gwenchana?” Tanya Jin Lee kepada kekasihnya itu.
“Nde.. nan gwenchana. Mungkin aku hanya butuh istirahat” Jawab Min Ji lemah.
“Kalau begitu aku akan pulang dulu”
“Ne, hati-hati dijalan” Dan Jin Lee pun meninggalkan Min Ji dirumahnya. Sebenarnya Min Ji tahu kenapa dia bisa jatuh tadi. Dia sebenarnya mempunyai penyakit. Tapi dia tidak pernah mau membicarakannya pada Jin Lee. Dia tak ingin Jin Lee bersedih. Walaupun dia tahu, hidupnya bersama Jin Lee tidak akan lama lagi karena dokter memvonis waktunya hanya beberapa hari lagi.
Keesokan harinya…
Jin Lee menjemput Min Ji kerumahnya. Tapi, setelah berkali-kali memencet bel pintu tak kunjung terbuka. Dia mulai khawatir dengan Min Ji. Dia pun memutuskan untuk mendobrak pintu rumah Min Ji. Dan setelah pintu itu terbuka…
“Minji-aa Eodiga?” Jin Lee berteriak-teriak mencari keadaan Min Ji. Tapi setelah berkali-kali hasilnya nihil. Dia pun mengalihkan pandangannya ke kama Min Ji. Dia membuka pintu kamar Min Ji dan melihat kekasihnya tak sadarkan diri di dekat lemari pakaian. Dia pun menggoyang-goyangkan pundak Min Ji, tapi tak ada respon darinya. Dia melihat sebuah kertas kecil ditangan Min Ji dan membaca isinya.
“Dear God,
Aku tahu hidupku sudah tak lama lagi. Mungkin jika aku pergi aku akan pergi ke tempat lebih baik. Aku berterima kasih Karena kau telah memberikan hidup yang indah untukku. Hidupku indah karena ada Jin Lee disampingku. Jika aku pergi nanti aku harap kau berikan penggantiku yang lebih baik untuk Jin Lee. Mungkin kurasa aku akan pergi sekarang. Aku harap kau akan mengabulkan permintaanku … Thank’s For My Beautiful Live God”
Jin Lee menangis, tapi apa dayanya? Kekasihnya sudah pergi dari dunia ini. Jin Lee hanya bisa berharap supaya kekasihnya bahagia di alam barunya…
No comments:
Post a Comment